Minggu, 07 Desember 2008

Pariwisata Indonesia

Perencanaan Pariwisata Indonesia
Apa yang diungkapkan oleh Jenkins dalam tulisannya tentang permasalahan privatisasi di negara berkembang yang mengupas tentang praktek-praktek perencanaan pariwisata di negara berkembang nampaknya, sampai pada batas-batas tertentu terjadi di Indonesia. Perkembangan pariwisata Indonesia, bila diindikasikan dari jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), mengalami percepatan (akselerasi) pada Pelita IV, dimana kunjungan wisman ke Indonesia mulai menembus angka 1 juta pada tahun 1987 dan terus melejit ke angka 3 juta pada tahun 1992 dan 5 juta pada tahun 1997.
Apa yang diungkapkan oleh Jenkins dalam tulisannya tentang permasalahan privatisasi di negara berkembang yang mengupas tentang praktek-praktek perencanaan pariwisata di negara berkembang nampaknya, sampai pada batas-batas tertentu terjadi di Indonesia. Perkembangan pariwisata Indonesia, bila diindikasikan dari jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), mengalami percepatan (akselerasi) pada Pelita IV, dimana kunjungan wisman ke Indonesia mulai menembus angka 1 juta pada tahun 1987 dan terus melejit ke angka 3 juta pada tahun 1992 dan 5 juta pada tahun 1997.
Kemauan pemerintah Indonesia untuk mengembangkan sektor-pariwisata (mancanegara) telah mulai diindikasikan sejak sebelum PJP I, yaitu sejak pembentukan Badan Pusat Hotel negara pada tahun 1947, yang berkedudukan di Malang, yang pada tahun 1952 menjadi Serikat Gabungan Hotel, menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955. Hotel internasional yang pertama, dibangun pada tahun 1962 bersamaan dengan penyelenggaraan Asian Games IV di Jakarta. Pembangunan kemudian dilanjutkan dengan hotel-hotel di Bali, di Pelabuhan Ratu (Jawa Barat dan di Jogyakarta. Pariwisata pada waktu itu identik dengan pembangunan hotel dan pendirian biro perjalanan. PT. Natour sebagai biro perjalanan yang pertama di tanah air didirikan pada awal PJP I yaitu tahun 1953.


Perhatian pemerintah ke masalah perencanaan mulai diwujudkan melalui perencanaan yang bersifat makro, yaitu Penyusunan Rencana Pengembangan Pariwisata Bali, Jawa dan Madura, Sumatra bagian utara dan Nusa Tenggara Barat. Pendekatannya bukan lagi pendekatan pembangunan hotel tetapi pemanfaatan obyek dan daya tarik yang dimiliki oleh daerayh-daerah yang bersangkutan, pendekatan dari sisi penawaran. Nampaknya perkembangan yang dialami oleh hotel-hotel internasional telah mendorong upaya untuk mengkaitkannya dengan sumber daya wisata yang dimiliki dimana hotel-hotel tersebut dibangun.
Dengan berjalannya waktu, pemerintah Indonesia makin merasakan beratnya beban untuk membangun dan mengoperasikan hotel dan komponen wisata lainnya di berbagai tempat di tanah air. Pada tahun 1973 pemerintah membentuk suatu lembaga, yaitu Bali Tourism Development Corporation (BTDC) yang berkedudukan di Jakarta. Proyek pertamanya adalah pengembangan kawasan wisata Nusa dua sebagai bagian dari Rencana Pengembangan Pariwisata Bali. Pendekatannya adalah pendekatan terpadu kawasan mandiri di mana kawasan tersebut mempunyai komponen-komponen yang lengkap sebagai suatu tujuan wisata. Pada waktu-waktu mendatang kawasan pariwisata Nusa Dua ini menjadi contoh keberhasiolan tidak hanya dari segi perencanaan fisiknya, tetapi juga dalam manajemen operasional dan pemasarannya. Proyek ini merupakan proyek patungan segitiga Pemerintah Daerah – BTDC – dan swasta. Pola pengembangan semacam ini lalu menjadi panutan dan diterapkan di berbagai tempat di tanah air, tanpa memperhatikan hal penting bahwa keberhasilan Nusa Dua tidak terlepas dari lokasinya yang berada di pulau Bali, suatu pulau yang memang merupakan tujuan wisata yang sudah jelas daya tariknya dan dikenal di pasar mancanegara maupun nusantara. Sebagaimana dikatakan oleh Fagence (1991 dalam Gunn, 1994:19) bahwa
“Locations, regions, resources, amenities and infrastructure have an unequal potential and capacity for particular forms, types and scales of development.”
maka keberhasilan Nusa Dua tidak dapat begitu saja diulang di tempat lain.
Dalam kasus pariwisata hal ini berarti bahwa di suatu negara tidak semua tempat memiliki peluang yang sama. Keberhasilan Nusa Dua tidak semata-mata disebabkan oleh perencanaan yang baik, tetapi lebih kepada lingkungan eksternal yang sangat kondusif, di mana kawasan tersebut berada di suatu tujuan wisata yang kuat daya tari8knya, didukung oleh kesiapan masyarakatnya dan kota dengan akses yang baik ke pintu gerbang utama Jakarta dan bahkan belakangan lalu menjadi pintu gerbang internasional sendiri.


Di pulau Jawa yang relatif sudah mapan, dipilih lokasi-lokasi antara lain Pangandaran dan Baturaden yang memang sudah menjadi tujuan wisata, terutama domestik. Penetapannya sebagai kawasan wisata tidak dapat mengangkatnya menjadi kawasan sekelas Nusa Dua karena masih bertumpu pada aset lama dan kurangnya mina investor baru skala besar. Lokasi lain adalah Tanjung Lesung di pantai barat Jawa Barat. Kawasan ini semula menghadapi kendala lingkungan masyarakat sekitar yang belum/ kurang mendukung dan juga lokasi yang agak terpencil, hanya dapat dicapai melalui jalan darat yang panjang atau laut melalui Labuan dari sumber pasar. Saat ini kawasan tersebut telah dikembangkan namun pasarnya masih sangat terbatas.
Di luar pulau Jawa, beberapa lokasi kawasan wisata yang dipilih tidak memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan. Di kawasan Tasikria, dekat Manado di Sulawesi Utara, lokasi yang dipilih tidak memiliki karakteristik alami yang menonjol. Manado sebagai pintu gerbang baru, tidak/belum mampu menarik pengunjung internasional dalam jumlah cukup besar. Jarak ke Tasikria, di mana lokasi tersebut berada sebenarnya tidak jauh (± l jam perjalanan darat) namun daya tariknya tidak cukup kuat, karena karakteristik alami yang tidak menonjol tadi dan juga hanya terdapat hotel tanpa fasilitas pariwisata lain yang memadai.
Kawasan Biak-Marauw di pulau Biak yang direncanakan dan dibangun “seperti” Nusa Dua juga menghadapi kendala. Meskipun bandara yang dibuka sebagai pintu gerbang internasional memiliki landasan yang memadai untuk pesawat berbadan lebar, namun unsur-unsur kepariwisataan lainnya belum menunjang, seperti masyarakat belum siap dan tidak ada penerbangan dari dan ke sumber pasar mancanegara potensial, sementara untuk pasar domestik lokasinya pun sangat jauh sehingga biaya transport menjadi sangat tinggi. Selain tiu unsur-unsur alam dan binaan yang menjadi daya tarik belum terkemas dengan baik. Pada tahap selanjutnya, saat kawasan Biak marauw telah siap dengan hotel berbintang dengan kapasitas sekitar 300 kamar, penerbangan ke luar negeri melalui Biak sudah terhenti.
Contoh-contoh di atas menguatkan pendapat Fagence dan Gunn , bahwa Tourism planning di tingkat regional (makro) menjadi penting. Keberhasilan suatu kawasan wisata tidak hanya ditentukna oleh keberhasilan perencanaan di tingkat kawasan, tetapi oleh kaitan-kaitannya dengan wilayah yang lebih luas dan faktor-faktor eksternal. Sebenarnya pemerintah telah menyadari pentingnya hal tersebut dan penyusunan regional tourism plans sudah dilakukan pada awal PJP I seperti disebutkan di depan.
Pada tahun 1979/1980 dan dilanjutkan pada tahun 1980/1981 disusun Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional (RIPPN) yang kembali mengidentifikasi tujuan-tujuan wisata potensial dan kota-kota untuk dijadikan pintu gerbang. Rencana induk Pengembangan Pariwisata Nasional ini mengangkat masalah-masalah yang terkait dengan kebijaksanaan penunjang yang diperlukan oleh sektor pariwisata yang memerlukan komitmen dari banyak pihak.


Namun dokumen ini nampaknya tidak cukup ‘bergigi’ atau tidak sampai pada sasaran. Upaya selanjutnya dari segi perencanaan adalah rencana-rencana revitalisasi kawasan-kawasan yang telah membuktikan kekuatan daya tariknya seperti kawasan wisata Borobudur-Prambanan. Perencanaan dan pengembangan kawasan ini mengundang pro dan kontra di mana masyarakat non pariwisata, terutama para ahli arkeologi mengkhawatirkan daya dukung candi-candi peninggalan sejarah tersebut dan berkeberatan dengan upaya pemanfaatan candi sebagai daya tarik utama bagi wisatawan umumnya dan bagi umat Budha khususnya.
Pada periode selanjutnya, yaitu memasuki Repelita V, pemerintah merasakan perlunya untuk menyusun kebijaksanaan pendukung pengembangan kepariwisataan. Dengan bantuan UNDP, lengkap dengan para pakar dari luar negeri, disusunlah suatu studi “Tourism Sector Programming and Polici Development”. Para pakar luar negeri ini didampingi oleh tim nasional dalam angka “transfer of knowledge”. Dalam perjalanannya terjadi perbedaan yang mendasar antara tim mancanegara yang sangat hanya memikirkan pengembangan pariwisata internasional (seperti yang dilakukan di negara-negara berkembang kecil lain, di mana mereka mendapat pengalaman, dan tim nasional yang mengangkat periwisata domestik yang merupakan pasar besar bagi negara sebesar Indonesia. Sayangnya, data-data tentang wisatawan domestik ini memang tidak sebanyak data-data tentang wisatawan mancanegara yang sudah lama secara khusus dan reguler dikumpulkan. Karena dengan berbagai alasan lain, pemerintah akhirnya menghentikan kontrak dengan tim konsultan asing, suatu keputusan yang didukung oleh Tim Nasional yang berpendirian bahwa strategi pengembangan pariwisata Indonesia harus ditentukan oleh bangsa Indonesia sendiri (dengan memperhatikan masukan dari para pakar asing yang lebih berpengalaman).
Pada Repelita V, lahirlah apa yang dinamakan Sapta Kebijaksanaan yang terdiri atas Kebijaksanaan (1) intensifikasi promosi, (2) peningkatan akses, (3) peningkatan kualitas produk dan pelayanan, (4) pengembangan kawasan-kawasan wisata, (5) pengembangan wisata bahari (6) pengembangan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia kepariwisataan dan (7) peningkatan kesadaran wisata melalui sapta pesona (keamanan, ketertiban, kebersihan, kenyamanan, keindahan, keramahtamahan dan kenangan).
Perwujudan dari kebijaksanaan yang terkait dengan perencanaan khususnya perencanaan spasial adalah pembukaan 23 bandara dan banyak pelabuhan internasional di berbagai kawasan di tanah air, pengembangan kawasan-kawasan wisata, antara lain yang dikemukakan di depan tadi, dan pengembangan wisata bahari dalam bentuk program maupun yang dikaitkan dengan pengembangan kawasan wisata di Indonesia Timur khususnya. Sejak itu pula disusun Rencana Pengembangan Pariwisata Daerah (Provinsi) yang hingga saat ini hampir semua Daerah Tingkat I telah memilikinya. Beberapa DT II telah juga menyusun Rencana Induk Pariwisata DT II, diantara DT II tersebut terdapat beberapa Kodya yang telah/sedang pada tahap penyusunan rencana yaitu Kodya Bandung, Cirebon dan Balikpapan.
Perubahan-perubahan dinamik yang terjadi di sumber pasar maupun di tanah air dan makin maraknya minat swasta ke sektor pariwisata menyebabkan RIPPN tahun 1980/1981 yang lalu dianggap sudah harus ditinjau kembali. Perkembangan pariwisata mancanegara dan domestik dalam 15 tahun sejak RIPPN tersebut selesai sudah sangat pesat. Pada pertengahan Repelita VI (1996/7 – 1997/8) pemerintah menyusun Rencana Induk Pengembangan Pariwisata dengan pendekatan kewilayahan, di mana Indonesia dibagi menjadi 6 wilayah yang masing-masing terdiri atas beberapa provinsi.
Dalam rencana tersebut, tiap wilayah memiliki pintu gerbang internasional, daya tarik unggulan dan daya tarik lainnya. Pada saat rencana itu selesai, Indonesia mulai dilanda berbagai macam krisis, sehingga kelanjutannya menjadi tidak jelas, karena program-program pada masa krisis cenderung berupa program yang berkaitan dengan pemulihan citra dan program-program jangka pendek yang dikaitkan dengan penanggulangan krisis.
Semua rencana yang dikemukakan merupakan rencana-rencana yang disusun oleh/atas inisiatif pemerintah (pusat dan daerah), di samping itu tentu sangat banyak rencana-rencana pada skala kawasan (dengan berbagai ukuran) yang disusun atas inisiatif para pengembang dengan memanfaatkan konsultan asing dan nasional, tergantung pada skala investasinya.
Satu perbedaan yang jelas adalah bahwa rencana-rencana di tingkat kawasan yang disusun atas permintaan para pengembang berorientasi pada pasar dengan pemanfaatan maksimal pada tapak yang bersangkutan untuk menciptakan nilai tambah yang sebesar-besarnya, sementara perencanaan regional pada tingkat nasional, provinsi atau Daerah Tk. II yang disusun atas inisiatif pemerintah lebih berorientasi pada aset dan sumber daya yang dimiliki.
Di tingkat kawasan, produk rencana tersebut sangat fokus kepada tapak yang bersangkutan, hampir tidak memperhatikan kawasan di luar tapak, sementara itu di tingkat makro perencanaan sangat mempertimbangkan sektor ekonomi lain. Cakupan rencana makro ini sangat luas, tidak hanya masalah keruangan, tetapi juga masalah-masalah pengembangan objek dan daya tarik wisata promosi, pengembangan sumber daya manusia, kelembagaan, investasi dan jalur-jalur wisata (RIPPNAS, 1997/8;RIPPDA).
Sejauh ini hanya Rencana Induk Pengembangan Pariwisata DKI Jakarta yang mencoba mengkaitkan rencana pengembangan pariwisata dengan Rencana Umum Tata Ruang Kota dan mengusulkan program-program pendukung kepariwisataan non promosi dalam program pengembangan DKI-Jakarta.
Program-program kepariwisataan di daerah Tk. I, umumnya didominasi oleh program promosi. Di tingkat pusat, selain program yang berupa studi-studi dan program-program yang dapat dikelompokkan ke dalam program-program yang bersifat promosi (dalam dan luar negeri) & sosialisi, terdapat program ‘perintisan’ dan pembinaan (sertifikasi) serta pemantauan (klasifikasi), program pengendalian masih terbatas dilakukan melalui perizinan yang lebih mempertimbangkan kelayakan pasar sedangkan pengendalian yang terkait dengan hal-hal yang berada di tangan pemerintah daerah nampaknya tidak efektif. Meskipun demikian, Pemda seringkali merasa dilewati dalam proses pengembalian keputusan di tingkat pusat dan setelah menerima rekomendasi dari pusat sulit untuk menolak.

Pariwisata sebagai sektor andalah seringkali dipandang sebagai industri yang bermula dari industri perhotelan dan perjalanan. Penanganan sektor ini oleh pemerintah selain upaya-upaya promosi dilakukan dari dua sisi, yaitu:
1. Penyediaan suatu Rencana Induk di tingkat nasional dan provinsi, sebagai pedoman pengembangan bagi Pemerintah Daerah,
2. Penyederhanaan ijin-ijin usaha bagi swasta, untuk memacu investasi.
Sebenarnya kedua hal tersebut disertai dengan dukungan politis yang kuat akan cukup memacu perkembangan pariwisata yang terarah. Namun pada kenyataannya, perkembangan pariwisata Indonesia sangat dipengaruhi oleh pasar dan selera pengembang/investor yang mungkin saja lebih mengenal pasar atau sanggup menciptakan pasar. Dari segi perencanaan, hal ini menimbulkan suatu permasalahan menarik yaitu mengapa rencana-rencana tersebut tidak diikuti oleh para pengembang ?
Ada beberapa kemungkinan penyebab, yang teridentifikasi/teramati yaitu
1. Perencanaan oleh sektor publik tidak didasarkan pada suatu survei pasar yang memadai dan sangat berorientasi hanya pada penyediaan (supply), dan pengembangan di kawasan-kawasan yang belum berkembang, sementara pengembang cenderung memilih lokasi dengan pasar yang lebih konkrit.
2. Promosi investasi yang dilakukan dengan menyederhanakan berbagai prosedur dan persyaratan telah dimanfaatkan oleh pengembang dan seterusnya.
3. Pengembang sebagian tidak berorientasi pada pengembangan pariwisata, tetapi pada bisnis properti dan harapan untuk mendapat nilai tambah dari aset.
4. Adanya kesenjangan dalam program pembangunan yang lebih terfokus pada penyediaan sarana dan kurang kepada pengembangan daya tarik, dengan konsentrasi di daerah-daerah yang relatif telah mapan.
5. Keterlibatan para perencana kota dan wilayah dalam penyusunan rencana-rencana tersebut belum maksimal dalam arti tidak semua rencana didukung oleh perencana kota dan wilayah, dan dari perencanaan, pada dasarnya tidak cukup memiliki wawasan kepariwisataan.
Situasi dan hasil pengamatan tersebut menggugah penulis untuk mempertanyakan (1) Perlunya pendidikan kepariwisataan bagi para perencana atau program perencanaan kepariwisataan yang lebih spesifik dan (2) perlunya pengembangan metode-metode perencanaan untuk dapat mengakomodasikan sektor andalan yang bersifat sangat dinamik ini. (Myra P. Gunawan)
Pemasok: Neneng Roslita

Pariwisata JABAR

Kondisi Pariwisata Jabar Kritis
Bandung - Sektor pariwisata Jawa Barat saat ini dinilai sejumlah kalangan berada dalam kondisi kritis. Terutama jika hal itu dikaitkan dengan banyaknya persoalan yang menyebabkan pariwisata Jabar seperti jalan di tempat.



Hal itu dikemukakan Ketua Badan Pimpinan Provinsi Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) Jawa Barat, H.S. Hermawan dan pengamat pariwisata, Nico Lumanauw kepada "GM" secara terpisah di ruang kerjanya, Jln. Surapati Bandung, Senin (23/1).

Menurut Hermawan, berbagai persoalan tersebut ditandai dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), munculnya travel warning (larangan berkunjung, red) dari sejumlah negara di dunia ke Indonesia, rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) serta kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya.

"Bila ditelaah lebih jauh, berbagai persoalan itu disadari atau tidak, sangat berdampak terhadap sektor pariwisata di Jabar," ungkap Pembina Badan Pengurus Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPD PHRI) Jabar ini.




Sebab itu, tambah Hermawan, guna mencari jalan keluar terhadap persoalan tersebut (termasuk mau dibawa ke mana pariwisata Jabar), MPI Jabar berencana mengadakan temu wicara antara para pelaku pariwisata dengan instansi pemerintah dengan tema "Pengembangan Pariwisata Jawa Barat Tahun 2006 dan Menyongsong Tahun 2010, Jabar sebagai Provinsi Termaju".

Kegiatan tersebut, masih kata Hermawan, akan dipusatkan di Gedung Negara Singgrong Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Purwakarta, Jln. Situ Buleud, Kamis (26/1) yang rencananya akan dibuka Wagub Jabar, Drs. H. Nu'man A. Hakim.

Dalam pertemuan itu, ujar Hermawan, akan dibahas pula mengapa target 1 juta wisatawan mancanegara (wisman) dan 50 juta wisatawan nusantara (wisnu) ke Jabar tidak tercapai. "Kita berharap hasil dari temu wicara tersebut dapat dijadikan masukan bagi Pemprov Jabar guna mereposisi sektor pariwisata di Jabar," jelasnya sambil menambahkan, sedikitnya 100 peserta dari berbagai kalangan dan profesi dipastikan akan hadir dalam acara tersebut.

Sementara itu, pengamat pariwisata, Nico Lumanauw menyambut baik rencana penyelenggaraan temu wicara tersebut. Menurutnya, sudah sepantasnya Pemprov Jabar merumuskan kembali pelaksanaan program pariwisata di Jabar.

"Tentu saja sebagai orang pariwisata, saya merasa sangat prihatin dengan kondisi pariwisata di Jabar saat ini. Sebab itu perlu segera dicarikan jalan keluarnya sehingga kondisinya tidak bertambah parah," tegasnya.

Ia mengakui, banyak hal yang menjadi penyebab pariwisata di Jabar dinilai berada dalam kondisi kritis. Termasuk berbagai persoalan global yang terjadi saat ini. "Sebab itu, melalui temu wicara yang diprakarsai MPI Jabar tersebut, diharapkan akan dihasilkan berbagai masukan positif bagi Pemprov Jabar dalam pengembangan sektor pariwisatanya," kata Nico. ( B.34 )

Sabtu, 06 Desember 2008

Pariwisata Bandung





Kota Bandung selain dikenal sebagai kota Konferensi Asia Afrika yang menghasilkan Dasa Sila Bandung juga merupakan kota pendidikan dan kota para seniman karena banyak seniman yang lahir, berkarya atau menetap di Bandung. Di Kotamadya Bandung terdapat banyak obyek wisata yang menarik seperti Gedung Sate, Gedung Merdeka, Kampus Institut Teknologi Bandung, Gedung ‘Isola’ Bumi Siliwangi, Gedung Papak (Balai Kota), Gedung Pakuan, Museum Geologi, Museum Nagri Jawa Barat, Museum Pos/Filateli, Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), Mesjid Agung Bandung, Gereja Kathedral, Taman Hutan Raya Ir. Djuanda dengan gua-gua peninggalan Jepangnya, Saung Angklung Ujo Ngalagena, industri sepatu Cibaduyut, Jeans-Cihampelas, Curug Dago dan lainnya lagi. Kota Bandung terkenal dengan peuyeum-nya dan oncom sebagai makanan khas.
Obyek wisata alam yang banyak terletak di sekitar Bandung adalah Maribaya, Lembang, Curug Panganten-Cisarua, Waduk Saguling, pemandian air panas Ciater-Subang, Kawah Tangkuban Perahu, Kawah Papandayan, Perkebunan Teh Malabar dan Situ Cileunca di Pangalengan, Perkebunan Teh Rancabali dan Situ Patenggang di Ciwidey. Kedua kawasan perkebunan teh ini sangat sejuk dan asri.

KOTA BANDUNG
Kota Bandung terletak antara 107o36’ Bujur Timur dan 6o55’ Lintang Selatan, di atas 768 meter dari permukaan laut. Jarak tempuh dari Jakarta sekitar 180 km dapat dicapai dengan pesawat terbang selama 25 menit atau dengan kereta api atau dengan bus selama 3-4 jam. Luas wilayah kota 8098 hektar yang terdiri atas 91 kelurahan dan 16 kecamatan. Temperatur rata-rata 23o-24o C, dengan kelembaban udara 70% dan curah hujan rata-rata 1.814 mm/tahun. Kata “Bandung” sudah lama dikenal orang sebelum Kota Bandung itu sendiri berdiri. Kata “Bandung” itu diambil dari bahasa Sunda yang artinya “bendungan” (dam) yang dikelilingi oleh pegunungan. Lama kelamaan bendungan itu menjadi kering sama sekali dan menjadi sebuah kotayang sekarang ini disebut Bandung.
Kota Bandung kemudian menjadi sangat terkenal karena pada tanggal 24 Maret 1946 kota ini menjadi lautan api dalam perang perjuangan rakyat melawan penjajah pada bulan April 1955 menjadi tempat diselenggarakannya Konfrensi Asia Afrika yang diikuti oleh 29 negara Asia dan Afrika.

OBYEK DAN DAYA TARIK WISATA

Gedung-gedung Kuno

Selain gedung Merdeka dan gedung Bumi Siliwangi, Hotel Peanger dan Hotel Savoy Homan merupakan bangunan-bangunan tu yang sangat artistik. Kedua hotel ini berada di jalan Asia Afrika, tidak jauh dari gedung Merdeka. Gedung kuno yang sangat artistik lainnya adalah Gedung Sate, tempat Gunernur Jawa Barat berkantor. Gedung ini terletak di Jalan Diponegoro.


Museum Geologi
>Museum Geologi letaknya di Jalan Diponegoro, tidak jauh dari Gedung Sate. Dari sini dapat diperoleh berbagai informasi yang berhubungan dengan masalah kegeologian. Di antara benda-benda yang menjadi koleksinya adalah fosil tengkorak manusia pertama di dunia , fosil-fosil kerangka binatang pra-sejarah, batu bintang seberat 156 kg yang jatuh pada 30 Maret 1884 di Jatipelangon, Madiun.

Museum Mandala Wangsit Siliwangi





Adalah sejarahmuseum perjuangan Masyarakat Jawa Barat, khususnya TNI Angkatan Darat Kodam Siliwangi. Di museum ini tersimpan berbagai benda yang digunakan dalam perjuangan masa lalu oleh pemuda Jawa Barat menetang berbagai macam bentuk penjajahan dan peristiwa lainnya dalam mempertahankan keutuhan Republik Indonesia. Terletak di jalan Lembang, berseberangan dengan Hotel Panhegar dan Kantor Telepon yang mudah dicapai dengan angkutan kota jurusan Ledeng-Kebun Kelapa dan Dago-Kebun Kalapa.

Institut Teknologi Bandung

Letaknya bersebelahan dengan Kebun Binatang. Perguruan Tinggi Ini merupakan perguruan tinggi tertua di Indonesia. ITB menjadi sangat terkenal karena banyak sekali alumninya yang menduduki posisi-posisi tinggi dalam pemerintahan, diantaranya Soekarno, porklamator dan presiden pertama Indonesia. Yang juga menarik dari perguruan tinggi ini adalah berntuk bangunannya yang khas.

Gedung Merdeka

Gedung yang terletak di jalan Asia Afrika ini didirikan oleh seorang arsitek Belanda yang bernama Van Galenlast dan C.O. Wolf Shoomaker. Gedung ini menjadi sangat terkenal sejak diadakannya Konfrensi Asia Afrika tahun 1955, kemudian Konfrensi Mahasiswa Asia Afrika tahun 1956 dan Konfrensi Islam Asia Afrika yang menyimpan naskah-naskah dan peniggalan-peniggalan Asia Afrika yang terkenal. Gedung ini dibuka untuk umum setiap harikerja dan mudah dicapai dengan menggunakan bus kota jurusan Cicaheum-Cibeureum.


Gedung Bumi Siliwangi
Gedung ini di bangun oleh milyuner Indo keturunan Italia bernama D.W. Berrety, salah seorang pendiri Kantor Berita Antara. Karena letaknya yang sangat strategis, dari gedung ini kita dapat melihat keindahan kota Bandung. Sekarang gedung ini dipakai sebagai pusat kegiatan IKIP Bandung. Untuk mencapai gedung yang terletak di Jalan Setiabudhi ini dapat digunakan angkutan kota jurusan Cicaheum-Ledeng atau Kebun Kelapa-Ledeng.

Museum Nagri Jawa Barat
Adalah museum yang menyimpan benda-benda yang menggamberkan kebsaran masyarakat Jawa Barat , baik fisik, ekonomi, teknologi, pendidkan, agama dan hasil seni. Terletak di Jalan Oto Iskandardinata.

Padepokan Seni
Gedung ini terletak di Jalan Lingkar Selatan, sebelah Selatan kota Bandung. Gedung ini mempunyai bentuk bangunan khas Jawa Barat ini merupakan tempat digelarnya berbagai jenis kesenian.

Saung Angklung Padasuka

Merupakan tempat pergelaran kesenian Jawa Barat seperti : Angklung, Wayang Golek, dan sebagainya, yang dapat dilihat setiap saat, pagi dan sore. Saung Angklung Padasuka-Ujo Ngalegana mempunyai lingkungan dan bangunan khas Jawa Barat.

KABUPATEN BANDUNG
Kabupaten Bandung terletak pada 107o22’-108o5’ Bujur Timur dan 6o41’-7o19’ Lintang selatan. Di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang, sebelah Timur dengan Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Garut, di Selatan berbatsan dengan wilayah Kabupaten Garut dan Kabupaten Cianjur dan di sebelah Barat dengan Wilayah Kabupaten Cianjur. Beriklim tropis dan curah hujan rata-rata setiap tahun antara 1.800 mm di daerah selatan Kota Bandung dan 2.500 mm di utara Kota Bandung. Suhu rata-rata berkisar antara 22o-23,5o C.

OBYEK DAN DAYA TARIK WISATA

Alam di daerah Kabupaten bandung memang menjanjikan objek pariwisata yang jelita. Betapa tidak, mulai dari Gunung Tangkuban Perahu di sebelah utara sampai Situ Panenggang di sebelah selatan. Kemudian Waduk Saguling di sebelah barat air terjun Sindulang di sebelah timur. Obyek-obyek wisata tersebut dapat dengan mudah dijangkau oleh kendaraan bermotor.

Bagi wisatawan yang ingin santai, tak perlu repot membawa bekal makanan dari rumah. Di sepanjang jalan bertebaran rumah makan, mulai dari warung kecil sampai restoran yang menyajikan berbagai macam masakan.
Selai obyek wisata alam, Kabupaten Bandung kaya pula akan berbagai jenis kesenian, tidak kalah dengan daerah lain di Jawa Barat. Kesenian Sunda buhun maupun kreasi baru, bertebaran di kota-kota kecamatan, bahkan sampai ke pelosok-pelosok desa.


Lembang
Kota kecamatan dengan panorama indah, di
Lembang terdapat Grand Hotel, salah satu hotel yang dibangun sekitar tahun 30-an sampai kini masih cukup memadai bagi kepentingan wisatawan. Dari Lembang dengan mudah dapat dicapai obyek wisata Curug Cimahi (Curug Cisarua), Maribaya, Tangkuban Perahu dan Ciater (Kabupaten Subang).




Maribaya
Jaraknya dari Kota Bandung sekitar 21 km ke arah utara, atau 5 km dari Lembang ke arah timur. Tempat rekreasi dengan pemandangan indah dan berhawa sejuk ini, selain memiliki sumber air panas mengandung mineral, juga terdapat air terjun Ciomas setinggi 25 meter. Bagi yang senang berpetualang, dari Maribaya dapat menerobos bukit-bukit yang rimbun dengan pohon pinus dan kina, berjaln kaki ke Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda atau ke daerah Arcamanik.






Kawah Tangkuban Perahu
Jarak dari kota Bandung ke obyek wisata Tangkuban Perahu sekitar 29 km ke arah utara, atau 13 km dari Lembang menuju arah Kabupaten Subang.
Di Kawasan gunung Tangkuban Perahu ini terdapat 10 kawah, antara lain Kawah Ratu, Upas, Kawah Baru, Kawah Domas dan Kawah Jurig. Kawah-kawah ini terjadi karena letusan Gunung Tangkuban Perahu pada tahun-tahun 1829,1864,1887, 1910,1926, dan 1929.




Waduk Saguling
Lagenda Sangkuriang yang menghiaskan kegagalan Sangkuriang menciptakan “danau” dalam waktu semalam suntuk, seolah dibangkitkan lagi dalam ingatan masyarakat Sunda ketika pada 15 februari 1985 pintu terowongan pengelak bendung Saguling ditutup, dan air mulai mengairi kawasan seluas 5.832 h. Ini merupakan awal berfungsinya waduk Saguling untuk pembangkit tenaga listrik dan juga dimanfaatkan untuk keperluan irigrasi.



Kawah Papandayan

Terletak di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut, 74 km sebelah selatan Kota Bandung atau 34 km dari Pangalengan. Dapat dicapai dengan kendaraan sejenis itu dalam waktu 2 jam, dengan rute Bandung-Pandalengan-Malabar-Papandayan.




Kawah Kamojang
Kawah ini juga termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Bandung dan sebagian lagi dalam wilayah Kabupaten Garut. Terletak di Kecamatan Pangkalan, 37 km dari Kota Bandung ke arah selatan. Dapat dicapai dengan kendaraan bermotor sampai di Paseh, dari sisni perjalanan dilanjutkan dengan perjalanan kaki atau dengan jip sampai ke Pangkalan. Jadi perjalanan yang membutuhkan waktu sekitar 1,5 –2 jam itu, menempuh rute Bandung-Majalaya-Pangkalan; atau bisa pula lewat Bandung-Samarang (Kabupaten Garut)-Kamojang. Kawah Kamojang merupakan kumpulan 20 kawah, antara lain Kawah Munding, Kawah Manuk, dan Kawah Kereta Api. Sekarang kawah-kawah ini dimanfaatkan sebagai pusat energi panas bumi/gas alam untuk pembangkit tenaga listrik (geothermal).

Situ Patenggang
Terletak di perkebunan teh Rancabali, Kecamatan Ciwedey, 47 km sebelah selatan Kota Bandung. Ka
wasan ini merupakan tempat wisata yang sejuk. Di sekitar danau, di lingkunan perkebunan the, terdapat lahan perkemahan yang banyak mendapat kunjungan para remaja, terutama pada hari-hari libur sekolah. Tidak jauh dari Situ Patenggang terdapat pemandian air panas Cimanggu.




Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda
Dahuku dukenal dengan nama Dago Pakar, terletak 8 km dari pusat kota ke arah utara. Dapat dicapai dengan kendaraan umum dari terminal bis Cicaheum atau Kebun Kelapa dengan rute ke Dago. Dari sini ke lokasi Taman Hutan Raya ditempuh dengan perjalanan kaki sejauh 2 km, karena tidak ada kendaraan umum. Bila dengan kendaraan pribadi, anda bisa langsung ke lokasi. Secara keseluruhan luas kawasan Taman Hutan Raya ini kira-kira 590 h, terletak di daerah Aliran Sungai Cikapundung di Curug Dago.
Berdiri pada ketinggian 770-1.330 meter di atas permukaan laut, dengan tofografi kawasannya miring, agak curam sampai curam sekali. Temperatur bagian lembah berkisar antara 22o-24o C, dengan curah hujan rata-rata 2.226 mm setiap tahun
Tumbuh-tumbuhan yang memenuhi Hutan Raya jaga terdapat gua-gua buatan peninggalan Belanda dan Jepang. Semula gua-gua tersebut merupakan terowongan air untuk Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Bengkok, tetapi kemudian berubah fungsi menjadi pusat komunikasi radio Belanda. Dan pada zaman Jepang dimanfaatkan sebagai gudang mesiu. Kini sudah kosong, dan para pengunjung dapat masuk ke dalam gua dengan aman, karena sudah dilengkapi dengan fasilitas penerangan/listrik.
Jalan setapak menghubungi hampir seluruh tempat yang ada dalam kawasan Taman Hutan Raya. Bahkan bagi penggemar jalan lintas alam, dapat memanfaatkan jalan setapak ini menuju ke daerah Curug Dago yang terpisah sekitar 3 km dari kawasan ini, malah bisa terus ke daerah Lembang.
Di sebelah timur Hutan Raya, terdapat kolam yang cukup luas dan berada di bawah pengelolaan Perusahaan Listrik Negara. Kolam ini bisa dimanfaatkan untuk hobi memancing.
Taman Budaya
Terletak di atas bukit Dago, dapat dicapai oleh semua jenis kendaraan dalam waktu 20 menit dari stasiun bis Cicaheum atau 25 menit dari stasiun bis Kebon Kelapa (Abdul Muis). Taman Budaya terkenal karena kesejukan hawanya, dari sini dapat menikmati pemandangan indah dataran Bandung di waktu malam pada waktu udara cerah.

Senin, 17 November 2008

Hayu Berlibur...!!!

BERIKUT INI TEMPAT-TEMPAT WISATA DI BANDUNG YANG GA KALAH BEAUTIFUL AMA LUAR NEGRI
KAWAH PUTIH (MY HEART)







Wisata Ciater(ngobatin penyakit kulit)













paint ball war di lembang "battle field CIKOLE"(alah)





tangkuban perahu(another family conflict story)

















TERUS ADA JUGA KAWASAN PUNCLUT(RAWAN SENGKETA)



















Masih Banyak lagi sich,ntar dech di pos sesion dua nya...n_n


Pariwisata Indonesia dan Bali
(oleh: Administrator - pada 05 Jul 2007 untuk propinsi Bali)
Pariwisata Indonesia semakin terpuruk sejak kasus Bom Bali yang kedua tahun 2005 silam. Jika dibandingkan dengan Thailand, Singapore, Malaysia serta negara lainnya di kawasan Asia Tenggara, pariwisata Indonesia lebih sulit untuk segara pulih ke posisi sebelum Bom Bali satu. Banyak faktor yang menjadi kendala misalnya masih berpotensi terjadinya tsunami dan masih menjadi incaran terorisme. Keengganan wisata internasional untuk datang ke Indonesia termasuk Bali masih terlihat.

Selain kedua faktor di atas masalah lain yang menghambat perkembangan pariwisata Indonesia adalah stabilitas keamanan yang belum pulih benar, keadaan politik dan juga transportasi udara yang mengangkut wisatawan dari negara asalnya. Banyak penerbangan internasional mengurangi jumlah penerbangannya ke Indonesia. Sebagai contoh perusahaan penerbangan nasional Australia, Qantas belum menambah kwantitas penerbangannya ke Indonesia termasuk Bali.

Permasalahan lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah promosi pariwisata yang kurang proaktif dan terus menerus untuk menyakinkan calon wisatawan bahwa Indonesia masih layak dan aman untuk dijadikan daerah tujuan wisata. Public relation dan pemasaran ini menjadi tanggung jawab semua pihak termasuk pemerintah yang mengurus departemen kepariwisataan dan juga peran serta dari semua industri pariwisata itu sendiri.

Jika kita bandingkan dengan Thailand, Singapore, Vietnam dan Malaysia, iklan promosi pariwisata yang dilakukan oleh Indonesia masih jauh lebih sedikit. Sementara destinasi dan obyek wisata yang dimiliki Indonesia boleh dibilang tidak kalah menarik dengan negara tetangga.
Thailand sendiri menampilkan Amazing Thailand sebagai branding promotion, Malaysia dengan Truly Asia. Bagaimana dengan negara Indonesia tercinta ini ?

Jika kita mau belajar dari pengalaman sebelumnya, mungkin kita tetap memakai Bali sebagai ikon pariwisata Indonesia karena Pulau Seribu Pura ini memiliki beberapa keunikan tersendiri dari segi budaya dan kesenian masyarakatnya. Bila Bali dijadikan model pariwisata Indonesia, maka pariwisata Indonesia akan bangkit lagi dan wisatawan manca negara pun akan beralih ke Indonesia.