Minggu, 07 Desember 2008

Pariwisata JABAR

Kondisi Pariwisata Jabar Kritis
Bandung - Sektor pariwisata Jawa Barat saat ini dinilai sejumlah kalangan berada dalam kondisi kritis. Terutama jika hal itu dikaitkan dengan banyaknya persoalan yang menyebabkan pariwisata Jabar seperti jalan di tempat.



Hal itu dikemukakan Ketua Badan Pimpinan Provinsi Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) Jawa Barat, H.S. Hermawan dan pengamat pariwisata, Nico Lumanauw kepada "GM" secara terpisah di ruang kerjanya, Jln. Surapati Bandung, Senin (23/1).

Menurut Hermawan, berbagai persoalan tersebut ditandai dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), munculnya travel warning (larangan berkunjung, red) dari sejumlah negara di dunia ke Indonesia, rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) serta kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya.

"Bila ditelaah lebih jauh, berbagai persoalan itu disadari atau tidak, sangat berdampak terhadap sektor pariwisata di Jabar," ungkap Pembina Badan Pengurus Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPD PHRI) Jabar ini.




Sebab itu, tambah Hermawan, guna mencari jalan keluar terhadap persoalan tersebut (termasuk mau dibawa ke mana pariwisata Jabar), MPI Jabar berencana mengadakan temu wicara antara para pelaku pariwisata dengan instansi pemerintah dengan tema "Pengembangan Pariwisata Jawa Barat Tahun 2006 dan Menyongsong Tahun 2010, Jabar sebagai Provinsi Termaju".

Kegiatan tersebut, masih kata Hermawan, akan dipusatkan di Gedung Negara Singgrong Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Purwakarta, Jln. Situ Buleud, Kamis (26/1) yang rencananya akan dibuka Wagub Jabar, Drs. H. Nu'man A. Hakim.

Dalam pertemuan itu, ujar Hermawan, akan dibahas pula mengapa target 1 juta wisatawan mancanegara (wisman) dan 50 juta wisatawan nusantara (wisnu) ke Jabar tidak tercapai. "Kita berharap hasil dari temu wicara tersebut dapat dijadikan masukan bagi Pemprov Jabar guna mereposisi sektor pariwisata di Jabar," jelasnya sambil menambahkan, sedikitnya 100 peserta dari berbagai kalangan dan profesi dipastikan akan hadir dalam acara tersebut.

Sementara itu, pengamat pariwisata, Nico Lumanauw menyambut baik rencana penyelenggaraan temu wicara tersebut. Menurutnya, sudah sepantasnya Pemprov Jabar merumuskan kembali pelaksanaan program pariwisata di Jabar.

"Tentu saja sebagai orang pariwisata, saya merasa sangat prihatin dengan kondisi pariwisata di Jabar saat ini. Sebab itu perlu segera dicarikan jalan keluarnya sehingga kondisinya tidak bertambah parah," tegasnya.

Ia mengakui, banyak hal yang menjadi penyebab pariwisata di Jabar dinilai berada dalam kondisi kritis. Termasuk berbagai persoalan global yang terjadi saat ini. "Sebab itu, melalui temu wicara yang diprakarsai MPI Jabar tersebut, diharapkan akan dihasilkan berbagai masukan positif bagi Pemprov Jabar dalam pengembangan sektor pariwisatanya," kata Nico. ( B.34 )

Tidak ada komentar: